Jumat, 15 April 2011

EKSISTENSIALISME HEIDEGGER


BAB I
PENDAHULUAN
Eksistensia membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada, eksis. Oleh eksistensia kursi dapat berada di tempat. Pohon mangga dapat tertanam, tumbuh, berkembang. Harimau dapat hidup dan merajai hutan. Manusia dapat hidup, bekerja, berbakti, dan membentuk kelompok bersama manusia lain. Selama masih bereksistensia, segala yang ada dapat ada, hidup, tampil, hadir. Namun, ketika eksistensia meninggalkannya, segala yang ada menjadi tidak ada, tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir. Kursi lenyap. Pohon mangga menjadi kayu mangga. Harimau menjadi bangkai. Manusia mati. Demikianlah penting peranan eksistensia. Olehnya, segalanya dapat nyata ada, hidup, tampil, dan berperan.
Martin Hiedegger memulai karirnya sebagai orang kristen baru. Dia memperoleh dokter di “Freiburg im Breisgau”, dan lalu ia mengikuti jejak pemikiran Husserl. Ia menyusun skripsi tentang katogori dan signifikansi dari ajaran duns Scotus’s. Ia lalu menjadi koeditor di “Jahrbuch fur philosophie und phanomenologische forscbung”. Heidegger merupakan pemikir yang ekstrim, hanya beberapa filsuf saja yang mengerti pemikiran Heidegger. Pemikiran Heidegger selalu tersusun secara sistematis. Tujuan dari pemikiran Heidegger pada dasarnya berusaha untuk menjawab pengertian dari “being”. Di dalam realitas nyata being (sein) tidak sama sebagai “being” ada pada umumnya, sesuatu yang mempunyai ada dan di dalam ada, dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan ada sebagai pengada. Heidegger menyebut being sebagai eksistensi manusia, dan sejauh ini analisis tentang “being” biasa disebut sebagai eksistensi manusia (dasein).



BAB II
PEMBAHASAN
1. EKSISTENSIALISME SEBAGAI FILSAFAT
Dalam kajian filsafat, benturan antar aliran akan banyak ditemui, terutama setelah satu pandangan dengan pandangan lain bertemu pada satu tema besar yang menjadi inti dari masing-masing aliran itu. Dampaknya, untuk para pemula dalam bidang ini, akan mengalami berbagai macam kebingungan karena komplektisitas dan penuh dialektika didalamnya.
Husserl telah memberikan banyak rangsangan pada para filsuf eksistensialis seperti Heidegger, Sartre, dan Merleau-Ponty. Akan tetapi arus filsafat eksistensial bergerak kearah yang berbeda dengan yang dituju oleh Husserl. Jika filsafat Husserl berurusan dengan esensia berbagai hal, para eksistensialis bergumul dengan eksistensial. Bagi sejumlah eksistensialis kontomporer, fenomenologi adalah titik keberangkatan dan fase perama dari evolusi filsafat mereka. Beberapa eksistensialis itu, membentuk hubungan yang erat dengan fenomenologi dari pada para eksistensialis lainnya. Akan tetapi, bagaimanapun, segenap eksistensialis,menerima metode fenomenologis sebagai metode yang mendasar dan sah.karena itu, boleh dikatakan bahwa para eksistensialis dalah juga fenomenolog, tetapi tidak sebaliknya.
Meskipun eksistensialisme berhutang banyak pada fenomenologi, ilham-ilhamnya yang esensial berasal dari sumber-sumber yang lain, yakni pemikiran-pemikiran Kierkegaard dan friedrich Nietz (1844-1900), bahkan dari pada pemikir yang lebih awal. Gerakan baru ini timbul secara bersamaan dan mandiri dibeberapa negara serta menyebar dengan cepat. Persamaan iklim intelektual serta faktor-faktor dan kondisi-kondisi umum bisa menerangkan bagaimana eksistensialisme timbul dan memperoleh penerimaan dibanyak negara.
2. EKSISTENSIALISME HEIDEGGER
Martin Heidegger sepintas mungkin dinilai matematis dan kaku dalam menenun eksistensialismenya. Namun, hal tersebut sesungguhnya tidak identik dengan Martin Heidegger. Ia memiliki bangunan filosofis yang permanen dengan keterbukaannya yang luar biasa untuk mengantar filsafat pada pencarian sesuatu yang terdalam pada hal-hal lain yang berada di sekelilingnya. Hal-hal yang mengitari proses identifikasi human. Dengan demikian filsafat Heidegger adalah rangkaian arus berpikir yang tidak hanya mengetengahkan makna dari penjumlahan dalam dan luar belaka, melainkan bagaimana manusia dalam proses menjadi dan mencari arti keberadaaannya mampu memasuki ranah makna hal-hal di luar dirinya sebagai dirinya. Ekternalisasi eksistensialisme Martin Heidegger merupakan salah satu bagian dari filosofi keberadaan yang memberi ruang bagi interaksi manusia dengan hal-hal sekitar. Kalau pada Sartre interaksi itu dipenuhi oleh gaya kebebasan, maka pada Heidegger interaksi itu ditentukan oleh pemberian makna. Apa yang dimaknai di luar diri kemudian menjadi salah satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi manusia sendiri. Yang di luar manusia harus bisa dicari benang merahnya dengan manusia itu sendiri. Semua yang di luar baru bermakna apabila manusia mendekatinya. Manusia mampu menjadi yang lain dengan mengembangkan pemaknaannya serentak semua yang lain yang berada di luar manusia tersebut ditarik ke dalam ranah individu, karena semua yang lain itu adalah pemenuh arti manusia sendiri. Manusia menjadi penuh karena keterhubungan ini.
Karya filsuf asal Jerman yang santer disebut sebagai bapak fenomenologi yang mengantar aras pemikiran pada gerbang post-modernisme ini juga berhasil memberi apresiasi berbeda dari ciri filsafat klasik. Kalau pada metodologi klasik segala sesuatu didekati dengan berbagai cara dan proses untuk mengetahui makna terdalam, maka pada Martin Heidegger segala sesuatu diarahkan pada usaha memberi makna pada keberadaan. Segala sesuatu ditarik pada keterhubungannya yang apa adanya, tanpa memberi titik berat pada latar pengalaman dan kejadian-kejadian yang berhubungan. “Sesuatu” dinilai berdasarkan hubungan eksternalnya, hal-hal yang mengondisikan bagaimana sesuatu itu menjadi. Pada titik ini, individu bisa menjadi yang lain tetapi pemaknaan ini harus bergema pada identifikasi keberadaannya.
Yang ada di luar manusia akan berarti jika digunakan manusia. Di dalam dirinya, “hal-hal di luar” tidak memiliki makna. Mereka baru memiliki makna jika manusia merengkuhnya seturut tujuan dan alasan mengapa mereka digunakan. Pertanyaan tentang apa itu sesuatu tidaklah lebih penting ketimbang, bagaimana sesuatu itu bernilai dalam kontrol individu tertentu.
Pada akhirnya HEIDEGGER merasa mencapai metafisika yang lengkap dan sungguh-sungguh, jadi filsafat tentang ada yang sistematis. Hal ini menjauhkannya dari pendapat KIERKEGAARD. Begitu pula berlainan benar pendapatnya, karena dari eksistensi manusia tak dilihatnya jalan kepada Tuhan. Sehingga filsafatnya cenderung mengandung pemahaman ateisme.
3. PEMIKIRAN DAN METODE HEIDEGGER
1. Ditujukan pada pemecahan konkrit masalah "berada". Sebab selama ini pengertian kita tentang itu masih "samar".
2. "Berada" hanya dapat dijawab lewat "mitologi", artinya jika dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungannya dengan itu. Agar usaha itu berhasil mereka harus gunakan "fenomenologi" > sebagai metode. yang penting apa arti "berada".
3. Satu-satunya "berada" yang dengan sedirinya dapat dimengerti sebagai "berada" adalah beradanya manusia.
4. Harus dibedakan antara "sein" = barada/manusia dengan "seinde" = yang berada/benda. Benda-benda hanya "varhanden" = jika dipandang pada dirinya sendiri, hanya terletak begitu saja didepan orang tanpa adanya hubungan dengan orang itu.
5. Manusia > bberdiri sendiri tanpa mengambil tempat di tengah-tengah dunia sekitarnya. Dengan demikian berarti ia "berada" bukan "yang berada".
• Keberadaan manusia disebut "dasein" = berada di sana, di tempat. Untuk itu, manusia harus keluar dari dirinya sendiri dan berdiri di tengah-tengah segala yang berada.
• Dasein manusia disebut juga eksistensi = benda dalam dunia. Misal : kayu bakar dll.
• Secara fenomenologis : hubungan manusia dan dunianya bersifat praktis = ia sibuk dengan dunia/mengerjakan dunia (besargen=menyela-nyelakakan)
• Di dunia, manusia berbuat. Berbuat : Praktis & teoritis (manusia diam). Praktis : manusia bertemu benda-benda dan berbuat dengan benda-benda itu. contoh : kayu jadi kursi, dll.
• Dalam hidupnya dengan alam sekitar, manusia bersikap praktis. Dengan demikian, manusia sebenarnya terbuka dengan dunianya.

Keterbukaan manusia bersumber pada 3 hal :
1. Befindlicheit : kepekaan, diungkap dalam bentuk perasaan/emosi, rasa senang, kecewa, dll.
2. Verstehen : mengerti/memahami, bukan pengertian biasa tetapi yang mendalam. sadar = sadar akan "beradanya", dengan itu seluruh dunia = berarti. Ia harus buat rencana terhadap dunia harus diapakan.
3. Rade : berbicara, mewujudkan asas yang eksisensial bagi kemungkinan untuk berbicara & berkomunikasi kata berhubungan dengan arti :
• Manusia adalah makhluk yang berbicara. Sambil berbicara ia mengungkapkan diri (eksis).
• Manusia yang tidak eksis = mati.
• Mati bukan makna sebenarnya (meninggal), tapi memustahilkan segala kemungkinan dari diri kita.



DAFTAR PUSTAKA

Hendryk Misiak, Ph.d & Virginia Sexton, Ph.d. 2005. Psikologi Fenomenologi,Eksistensialisme dan humanistik. Bandung : Refika Aditama
Prof. I.R. Poedjawijatna. 1980. Pembimbing kearah alam filsafat . Jakarta : Pembangunan.
Muzairi, 2009. Filsafat-filsafat modern, Yogyakarta: Teras.

0 komentar: